Sunday, June 6, 2021

Berharap akan Rahmat Allah SWT

Didalam setiap acara ngaji, kami sering diingatkan agar dijaga niat, agar selalu diniatkan karena Allah, agar amal ini tidak sia-sia.

Dan juga sering terdengar ditelinga kami, kalimat mulia Yarjuuna Rahmatahu Wa Yakhoofuuna Adzabahu, kalimat dalam bahasa Arab, yang maknanya adalah berharap akan rahmat Allah dan khawatir akan adzab dari Allah.

Saking seringnya kalimat itu terdengar ditelinga, terkadang kita merasa itu sebagai hal biasa dan tidak ingin menganalisa, merenungkan apa yang tersirat dari nasihat para guru, para muballigh dan para perantara agama yang lainnya.

Saya pribadi menganggap bahwa nasihat ini adalah nasihat yang sangat mulya, nasihat yang sangat agung penuh makna.

Guru kami jarang mendefinisikan apa yang dia ajarkan dengan definisi-definisi yang rumit, hampir ajaran agama yang diajarkan, disampaikan dengan istilah yang begitu membumi bahkan tidak nampak kearab-araban didalam nasihat-nasihat yang kami terima.

Ada istilah papan empan adepan, kepara ngalah, rebutan ngalah, arang wulune kucing dan masih banyak sekali istilah-istilah yang seperti njawani padahal penjelasan dari istilah yang singkat padat itu bisa panjang kalau kalau dijabarkan.

Kembali kepada ajakan yarjuuna rahmatahu wa yakhoofuuna adzabahu, kalau saya renungkan ternyata peringatan ketika setiap memulai acara dengan kata niat karena Allah, yarjuuna rahmatahu wa yakhoofuna adzabahu ini sangat tinggi dan luhur.

Dua sisi tercapai didalamnya, sisi kemanusiaan/ kemanungsan dan sisi ketuhanan atau sisi ke Tauhidan tercakup didalamnya.

Karena, kalau kita lihat pada keumuman manusia, keumuman kita ketika mengerjakan suatu pekerjaan pasti ada tujuan dan pengharapan disana.

Misal seseorang berangkat bekerja, tentu ada harapan disana yang ingin dia gapai dari pekerjaannya itu. Misal ingin mendapat bayaran dari hasil kerjanya sehingga bisa memenuhi kebutuhan dia baik yang primer maupun sekunder. Ini manusiawi, ini berlaku umum pada setiap kita.

Sedangkan didalam amal ibadah ada aturan yang ketat disana, kalau sampai seseorang mengharapkan sesuatu yang bersifat materi dari ibadah dia atau mengharapkan sesuatu dari selain Allah, hal ini tidak bisa di benarkan secara syariat dan merugikan yang bersangkutan disisi Allah kalau ditinjau dari dalil-dalil agama.

Oleh karena itu, didalam beramal yang secara naluri kita selalu punya pengharapan didalamnya, lalu diingatkan agar aman dari sudut Tauhidnya, terus kita diingatkan agar harapan yang ada dari amal itu dikembalikan kepada Allah SWT sebagai Dzat yang punya Rahmat bagi seluruh alam, yakni mengharap akan Rahmat Allah bukan mengharap dari selain Allah. Misal mengharap pujian dari manusia ataupun mengharap materi dari selain Allah.

Dan khowatir akan adzab Allah sebagai dzat yang mutlak kekuasaannya yang memberikan ancaman bagi hamba yang tidak beramal karenaNya.

Seorang mukmin yang kuat Tauhidnya meskipun masih terikat dengan hal-hal yang fana didunia ini namun selalu berharap kepada Allah SWT.

Dengan selalu mengharapkan Rohmat Allah SWT maka orang yang beriman tidak akan menggantungkan harapannya dari amalnya, baik amal yang besar maupun amal yang kecil.

Sangat bersukur sekali mendengar peringatan-peringatan dari para guru yang selalu mengingatkan akan niat, ketika setiap memulai acara.

Alhamdulillah Jazaahumullohukhoira kepada para guru, para masyayikh yang telah mengajarkan hal-hal luhur kepada kami dengan cara yang membumi.

Dengan cara yang mudah difahami.


Jokotole 06-06-2021

Friday, June 4, 2021

Seperti yang telupakan

Ternyata sudah lama saya tidak membuat tulisan, padahal punya akun blog, meskipun gratisan, 

Setelah lama, setelah setahun lebih masa pandemi, masa wabah yang melanda dunia, yang mencekam dunia, tapi meskipun sebenarnya tidak terlalu berdampak bagi sebagian orang.

Sebagian orang merasa biasa, bahkan pernah saya di tegur seseorang yang melihat saya memakai masker, dia katakan " Mas, korona sudah ga ada, masih maskeran aja".

Ah malas meladeni debat kusir, saya hanya bergumam "Ya masing-masing sajalah, yang percaya dan hati-hati akan lebih baik, dan yang tidak percaya mudah-mudahan saja di beri kesehatan sehingga tidak menulari saya dan yang lainnya".

Sebagai pekerja, orang yang bekerja di perusahaan ya saya harus petuh aturan yang di gariskan, saya perlu suport untuk harian saya dan keluarga saya, makanya saya bekerja.

Karantina, bukan lagi nama yang asing ditelinga, karena hampir setiap dua bulan sekali saya dan teman-teman menjalani seminggu karantina sebelum berangkat ke lokasi kerja.

PCR test aaaah seperti sudah biasa hidung ini di tusuk dan di korek-korek secara periodik.

Vaksinasi, ya repot juga untuk melangkah, karena vaksinasi belom ada yang sekali tembak beres, ya karena jadwal kerja tidak memungkinkan untuk jadwal suntikan kedua bagi orang seperti saya.

Cuma tiga minggu di rumah, sedangkan periode kedua adalah setelah 28 hari suntikan pertama. Gak dapat, gak sesuai waktu hanya 21 hari dipotong perjalanan.

Seepertinya pelan tapi pasti memang kebiasaan hidup didunia ini berubah, masker adalah asesoris harian, hand sanitiser menjadi bawaan di tas atau dikantong baju.

Waspada bukan curiga kepada setiap orang asing ataupun orang yang dikenal tetapi dia baru datang dari perjalanan jauh.

Saling jaga jarak, jaga kebersihan dan kesehatan sudah semakin menjadi kesadaran masyarakat secara umum.

Sekolah jarak jauh, berat rasanya melepas anak ke sekolah meskipun disisi lain hawatir dengan pendidikan mereka yang sudah setahun lebih tidak masuk sekolah.

Ke masjid, ke tempat ngaji pun kewaspadaan di tingkatkan sedemikian rupa.

Enggan berjabat tangan seperti waktu itu, dulu itu setahun lebih yang lalu itu.



Sunday, August 23, 2020

Wahyu Pertama

Inspirasi Cerita dari Hadits Bukhori nomor 3.


Ketika Rasuulullah SAW berusia 4O tahun datang kepada beliau tanda-tanda kenabian dari Allah SWT. 


Diawali dengan mimpi yang benar, mimpi yang nyata, menjadi kenyataan.

Seiring dengan sering datangnya mimpi yang didalam agama di sebut dengan Arru’yah Ashshoodiqoh, mendorong beliau untuk lebih taqarrub kepada Allah SWT, lebih sering menjauhi keramaian, lebih sering beribadah siang malam kepada Allah disuatu tempat yang jauh dari keramaian, tempat yang sunyi, gua Hira. Beliau menyendiri di sana beribadah untuk periode beberapa malam dengan membawa perbekalan dari rumah. 


Ketika perbekalan habis beliau kembali kerumah untuk mengambil bekal dan selanjutnya kembali beribadah dalam kesunyian di gua Hira.


Sehingga ketika bulan Ramadhan, yang mashur, ketika tanggal 17 Ramadhan malaikat jibril mendatangi beliau.


Sebenarnya sebagai manusia biasa beliau terkagetkan akan peristiwa yang tidak biasa itu, sehingga membuat beliau merasa kedinginan dan menggigil.


Malaikat pun mendatangi Rasulullah SAW dan memintanya membaca, “Bacalah.” 

Rasulullah menjawab, “Aku tak dapat membaca.” 


Rasulullah SAW bercerita, “Malaikat pun memegang, memeluk, lalu melepaskanku, dan memintaku membaca kembali, “Bacalah.” 

“Aku tak dapat membaca,” jawab Rasulullah SAW. 


“Malaikat pun memegang, memeluk, lalu melepaskanku, dan memintaku membaca kembali untuk yang kedua kali, “Bacalah.” 

“Aku tak dapat membaca,” jawab Rasulullah SAW. 


“Malaikat pun kembali memegang, memeluk, lalu melepaskanku, dan memintaku membaca kembali untuk yang ketiga kali, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, Tuhanmu itu Maha Mulya (QS Al-‘Alaq; 1-3).”


إقرأ باسم ربك الذي خاق # خلق الإنسان من علق # إقرأ وربك الأكرم


Rasulullah saw. kembali kerumah, kepada ibu khadijah isteri beliau, Beliau meminta diselimuti, “Selimuti aku, selimuti aku.” 


Rasulullah SAW pun diselimuti hingga rasa takutnya hilang. 


Beliau menceritakan kepada ibu Khadijah mengenai kejadian di gua Hira itu, 


“Khadijah, aku takut terhadap diriku.” 


“Tidak apa-apa suamiku, Demi Allah, Allah tak akan menghinakanmu selamanya. Engkau itu pribadi yang suka silaturrahim, menanggung orang yang punya kesulitan, membuat orang fakir memiliki profesi, melayani tamu, dan membantu dalam kebaikan”.  

Demikian nasihat ibu khadijah kepada Rasuulullah SAW.


Setelah beberapa saat berikutnya ibu Khadijah pergi bersama Nabi SAW menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil‘uzza, sepupuh ibu Khadijah, yang beragama Nasrani pada masa Jahiliyah. 


Ia pandai menulis buku berbahasa Ibrani. Ia juga menulis kitab Injil dalam bahasa Ibrani dengan izin Allah. 


Saat (dikunjungi) itu ia sudah tua renta dan buta. 


“Sepupuku, coba dengarkan cerita ponakanmu ini,” kata ibu Khadijah kepada Waraqah mengenai Rasulullah SAW.


Waraqah bertanya pada Rasulullah SAW, “Ponakanku, apa yang kamu alami?” 


Rasulullah SAW pun menjelaskan kejadian saat di gua Hira. 


“Ini adalah Namus yang Allah turunkan pada Nabi Musa. Seandainya saja aku masih muda dan masih hidup saat kaummu mengusirmu,” jelas Waraqah pada Rasulullah SAW.


“Apakah aku akan diusir oleh mereka?” tanya Nabi SAW kepada Waraqah. “Iya, karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti. Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu semampuku”. 


Waraqah tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatrah/kekosongan wahyu.


Pada kali berikutnya ketika Nabi Muhammad Saw dalam perjalanan kembali dari Gua Hira, wahyu yang kedua datang. 

Saat itu ketika sedang berjalan beliau mendengar suara dari langit, beliau lalu memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadanya di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi.


Karena ketakutan, akhirnya Rasul SAW pun bergegas pulang, dan berkata kepada Khadijah,”Selimuti aku. Selimuti aku”.


Maka Allah Swt menurunkan wahyu, “Wahai orang yang berselimut, sampai firman Allah, dan berhala-berhala tinggalkanlah.” 


يايها المدثر قم فأنذ وربك فكبر و ثيابك فطهر والرجز فاهجر


Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan.

Wednesday, August 5, 2020

Terbang ke Banyuwangi 050820

Hari ini, pagi ini terlalu pagi saya tiba di bandara Internasional Cengkareng.
02:30 sudah tiba, padahal pesawat take off jam 11:30.
Ada yang lucu,ada yang kurang lucu.
Travel yang di booking berfikir lebih baik ada spare waktu dari pada terlalu mepet.
Saya percaya,sebab saya berfikir zaman covid19, tentu akan panjang prosedur yang harus di jalani.

Jam 21:45 tanggal 4 Agustus saya dijemput dari Garut.
Saya percaya sebab memang hitungan Garut Cengkareng itu kurang lebih 5 sd 6 jam perjalanan, ditmbah dengan keraguan kelancaran proses check in di masabpandemi saat ini.

Hari Kamis sebelumnya saya sudah menjalani rapid test, mumpung lagi medical check up oleh perusahaan. Apalagi rapid test balid sd 14 hari. Dan saya sudah mempunyai surat rapid test, yang menyatakan bahwa saya non reaktif covid19.

Jalan tol cileunyi tepat di rest area kami janjian dengan tekan yang lain.
Janjian jam 01:00 pagi.
Tetapi rupanya sebelum jam 12 malam kami sudah disana, kami, saya yg dari Garut beserta supir travel. Satu jam lebih terlalu cepat dari waktu yang sudah di janjikan.

Ya akhirnya jam 12 malam mobil meluncur ke Bandara, dan tepat pukul 02:39 kami tiba di terminal 3 gate 3.

Segera masuk dan segera revalidasi surat keterangan non reaktif covid dari klinik.
Isi data eHAC di aplikasi tilpon genggam.
Segera check in agar lebih mudah kedepannya.

Setelah check in segera memasuki ruang tunggu dan standby di pintu 12.

Ya masih sembilan jam lagi kami harus menjnggu disini, di ruang ini.

Lucu ya tapi tidak lucu.
Ada partner yang setengah gondok, saya pun setengah-setengah. 

Cengkareng 050820


Wednesday, March 25, 2020

Menembus Wabah Corona

Seperti biasa di hari-hari tertentu kami melaksanakan kegiatan ta'lim, tetapi mengingat adanya wabah corona, kami harus menaati peraturan pemerintah mengenai social distancing.

Senin sore saya mendapat WA dari teman bahwa ada pertemuan terbatas yang akan dilaksanakan di masjid Baitul Makmur sore hari selasa, ok jam 14:30 kita akan berangkat.

Selang beberapa waktu kemudian afa email dari perusahaan, agar berangkat ke Banyuwangi dengan menggunakan pesawat citilink pagi hari
Karena jarak dan waktu tempuh yang jauh dari, maka saya harus berangkat lebih awal. 
Saya WA teman saya bahwa saya tidak bisa hadir di acara terbatas tersebut di karenakan harus berangkat ke Jakarta.

Selasa setelah dzuhur, kurang lebih jam 13:30 saya berangkat ke Jakarta lewat Bandung menggunakan bus primajasa bandara.

Sepanjang perjalanan menuju Bandung, dengan berdesakan dengan penumpang lainnya, kecemasan akan virus tidak begitu terasa, meskipun tetap aja kekhawatiran itu ada. Kekhawatiran agaknberkurang karena sampai saat itu belum ada laporan covid-19 di daerah tempat tinggal saya.
Pesan dari istri dan anak, kenakan masker pakai sanitizer dll terus terkirim ada di WA.
Ya masker selalu menempel di mulut dan hidung.

Sampai di pool bus primajasa, di meja pembelian tiket ada hand sanitizer, ok langsung saya manfaatkan untuk membersihkan, 115 ribu ongkos bus.

Ini bus terakhir pa, dan akan berangkat pukul 17:00 baru adalagi nanti pukul 23:00.

Lo ini baru jam empat, biasanya setiap setengah jam.

Iya pa, ada pengurangan armada sejak wabah corona.

Ok saya bisa faham, dan harus menunggu agak lama deh dan kecemasan mulai semakin terasa.

Bus lengang, hanya sekitar tiga belas orang penumpang yang sebagian besar tujuan luar jawa, 5 orang berseragam TNI duduk dideretan depan.

Pukul 20 an saya tiba di Bandara dan harus menginap di Bandara International Hotel semalam untuk selanjutnya melanjutkan penerbangan ke Banyuwangi jam enam pagi.

Memasuki kota Jakarta, kecemasan semakin tinggi, coba menghibur diri dengan macam-macam alasan agar tenang dihati.

Checkin, sebelum memasuki loby kepala saya di tembak pakai gun oleh security, 35 derajat pa, bagus, dan segera memasuki lobby lewat metal detector.

Kamar 3207, 
segera lepas baju celana, masalah kecemasan timbul, di taruh mana ini, kalau nanti harus ganti baju celana baru waktu menuju Banyuwangi akan dibungkus apa baju bekas, celana bekas, bawa cuma satu tas.

Dimasukin tas baju celana yang bersih takut terkontaminasi, di tenteng ga ada tas lagi, akhirnya bingung sendiri.
Ok style yakin malam itu tidur ga pakai baju, hanya berselimut yang tersedia di kamar hotel.

Monday, January 6, 2020

Warung Wong Cilik

Ceritanya beberapa atau tiga bulan yang lalu. 

Karena ngantuk akhirnya mampir di rest area, gak usah di sebut ya takut kena UU ITE. 
Waktu itu perjalanan arah ke Bandung dari Cikampek.
Istirahat sejenak sambil ngopi dan makan mi rebus.
Setelah selesai dan cukup segar, nanya ke ibu penjual, berapa bu? pas di jawab berapanya, membuat saya mikir, kok larang ya.
Saya coba kros chek, mi berapa bu sepiring.
"20 ribu pak sewa tempatnya mahal".

Ya tetap saya bayar sambil mikir, kok larang temen ya, mi yang sama-sama kita tahu berapa harga sebungkusnya di luar sana, di tempat ini hanya di tambah dua lembar daun sawi jadi 20 rebu, kopi saset yang juga kita tahu berapa harganya di luar sana, di tempat ini jadi 10 rebu.

Saya memilih warung itu karena disainnya/gayanya seperti warung wong cilik, di pinggir-pinggir jalan, ya karena banyaklah pertimbangan, pas mbayar kok bikin njingkat.

Semalam saya masuk rest area lagi, perjalanan arah Bandung dari Cikampek.

Rest area yang lain.

Coba masuk rumah makan yang keren, ada mi gosongnya 🤭🤭🤭, mi arang kata penjualnya.

Di buburi/di awuri/di taburi potongan ayam, ada daun sawinya ada sambel balinya.

Pelayan keren, pake android waktu menulis pesanan, pelayannya dandanannya keren, ruangan ber AC, bersih rapih bisa nonton tipi. 
Sebelum pesanan datang sudah di kasih lembar kertas, tertulis harga 35 ribu mi gosong hehe 😀😀😀 semangkuk, jelas dan transparan.

Boleh di bayar sekarang atau namti pak.

Ok nanti aja sesudah makan, makasih ya.

Semalam dadi mikir, kok yang keren bersih rapih lebih jujur dan transparan dari pada yang terkesan warung wong cilik ya?

Artinya kalau merasa kemahalan kan bisa di kensel, soalnya di kasih tahu dulu harganya dengan pelayanan yang ramah dan sopan.

Sedang di tempat yang sebelumnya dengan pelayanan seadanya, dengan makanan yang sama-sama di ketahui harga di luar sana, mbayarnya pas sudah di makan, bikin njingkat harganya.

Saturday, January 4, 2020

Tahun Baru 2020

Pergantian tahun 2019 ke tahun 2020.
Seperti sudah lazim di masyarakat kita bahwa petgantian tahun selalu identik dengan pesta perayaan pergantian tahun.
Sepertunya sesuatu yang sangat sulit di hindarkan, mau tidak mau kita akan tetbawa dengan tradisi peringatan tersebut 

Jadi teringat lima tahunan yang lalu, ketika bertemu dengan bonek asal Banyuwangi yang sekarang sudah berpaspor Australia.
Menurut dia bahwa bangsa kita ini kafang lebih bule dari orang bule.

Kata dia, yang sekarang sudah tinggal di negara bule. Di tempat dia peringatan tahun baru itu hanya di kota-kota besar, dan itu yang di siarkan oleh tivi Indonesia, seakan disana ya seperti itu pesta pergantian tahun.

Coba lihat di negeri kita kadang sampai tingkat RT memperingati pergantian tahun tersebut.
Sehingga mau tidak mau kita akan terimbas atau paling tidak anak kita, generus kita akan trrbawa budaya itu.

Makanya kadang kita ini lebih bule dari orang bule, kata dia.

Di Australi dia tinggal di kota kecil, disana petgantian tahun ya biasa saja, tidak semeriah kita di Indonesia.

Ya memang seperti itu keadaan yang ada.

Sehingga bagi sebagian orang yang masih konsen terhadap akhlaq, agama dan budi pekerti generus, akan juga mengkhawatirkan hal itu.

Sehingga sebagian masyarakat justru mengalihkan generusnya ke acara positif yang lainnya pada malam pergantianbtahun tersebut.

Ada yang mengisinya dengan pengajian akhit tahun.
Pergantian tahun masehi ini di isi dengan hal positif, agar generus bisa teralihkan dari pengaruh negatif yang sudah jamak terjadi dengan pesta miras dan dugem.

Kali inipun saya ikut bergabung dengan rekan-rekan SAKO SPN Gudep Garut.

Hampir empat ratusan remaja putra dan putri di kumpulkan dalam acara TAFAKUR.
Diisi dengan acara pengajian dan kegiatan kepramukaanbyang sangat bermanfaat.

Full mulai jam 13:00 tanggal 31 Desembet 2019 sampai dengan tanggal 1 Januari 2020 pukul 14:00 acara penutupan dengan doa yang di bacakan oleh Alustad O Op Obidin dari Garut.

Pagi hari mulai jam 06:00 para anggota Pramuka SAKO SPN Garut di kerahkan  didalam acara Baksoso bersih-bersih lapangan alun-alun kecamatan Bayongbong dari berbagai macam sampah sisa acara yang juga di gelar disana pada waktu malam pergantian tahun.

Selanjutnya acara sarapan bersama yang kemudian di lanjut materi PMA yang di pimpin oleh Kak Edi Rahman dari Suci Garut.

Sangat menarik dalam acara PMA tersebut, karena peserta benar-benar di bangkitkan emosinya untuk belajar mengontrolnya.

Well,saya sebagai generasi tua, sangat tetharu dan bangga kepada semua panitia yang sebagian besar  adalah para remaja itu sendiri 

Well done sukses selalu, semoga kalian benar-benar jadi generasi alim faqih mandiri.

جزاكم الله خيرا



Mata Batin

Mata batin atau Bashirah Mata atau penglihatan bukan hanya mata atau penglihatan secara lahiriyah tetapi ada mata atau penglihatan batiniyah...